Well, setelah lama menjelajah waktu dan masih juga tak menemukan yg aku cari... kuputuskan untuk sekedar posting satu dua paragraf.
Untuk melegakanmu,
bahwa aku masih disini
Ya... disini!
Bersama sang waktu dan temaram senja
Intinya :
BLOGKU HIDUP LAGI DENGAN POSTINGAN-POSTINGAN BARU!
DON'T MISS IT!
*PGJ mode on
Thursday, July 31, 2008
Thursday, July 10, 2008
TIPS PRAKTIS MENSIASATI HIDUP
Dunia semakin kejam!
Listrik udah mulai digilir pemakaiannya, bbm naek ga terkira, dan gaji ...*melirik sedih duit di dompet. Sementara urusan perut harus tetap di pelihara, supaya supply tenaga tidak mengalami kendala sehingga masih ada harap untuk nambah..* masih melirik sedih duit di dompet.
Well, untuk itu kita harus pandai2 mensiasati pengeluaran makan. Jangan keseringan jajan, disamping tidak sehat buat tubuh, juga tak sehat buat dompet. Untuk itu tidak ada salahnya meluangkan waktu buat memasak makanan sendiri. Disamping lebih irit, juga bisa untuk menarik simpati lawan jenis yang sedang di incar.
Berikut TIPS PRAKTIS MEMASAK a.k.a HEMAT BIAYA MAKAN :
Gunakan alat2 yang tidak terlalu makan biaya. Hidup sudah semakin susyah man! *alesan.
>> CARA MEMBUAT :
Tumis bumbu yang telah disiapkan, dimulai dari yang di iris dulu, baru yang di uleg. Ingat, jangan gunakan blender. Disamping akan menambah pengeluaran yang tidak sedikit (untuk beli bleder), juga akan mengurangi sedikit rasa dari masakan. Kalo orang jawa bilang, kurang sedep.
setelah itu, masukan santan, dan ikan yg telah digoreng serta tahu. Fungsi tahu disini memberikan efek lebih banyak ke porsi masakan (baca : ngirit).
Untuk membuat aroma masakan semakin sedap, tutup wajan dengan penutup semestinya.
Setelah umub (baca : matang), maka kalian akan terkejut.
Ikan yang cuman 6 potong plus tahu yang di iris, akan jadi buanyak porsi.
Lihat gambar :
porsi segitu terdiri dari 2 potong ikan plus 7 potong tahu. Hanya untuk sekali makan. Brarti masih bisa makan 2 kali lagi dengan porsi yang sama. Jika ingin lebih irit, maka bisa makan separo porsi. Dengan demikian, masakan tersebut bisa buat 2 hari.
IRIT KAN???
catatan tambahan : uang yang habis buat belanja Rp. 9.700,- . Cuman segini man...!! Bisa buat makan 3 kali!
BON APPETITE!
Listrik udah mulai digilir pemakaiannya, bbm naek ga terkira, dan gaji ...*melirik sedih duit di dompet. Sementara urusan perut harus tetap di pelihara, supaya supply tenaga tidak mengalami kendala sehingga masih ada harap untuk nambah..* masih melirik sedih duit di dompet.
Well, untuk itu kita harus pandai2 mensiasati pengeluaran makan. Jangan keseringan jajan, disamping tidak sehat buat tubuh, juga tak sehat buat dompet. Untuk itu tidak ada salahnya meluangkan waktu buat memasak makanan sendiri. Disamping lebih irit, juga bisa untuk menarik simpati lawan jenis yang sedang di incar.
Berikut TIPS PRAKTIS MEMASAK a.k.a HEMAT BIAYA MAKAN :
1. SIAPKAN BAHAN-BAHANNYA 
cari yang ukuran sedang, terus dipotong jadi 2. Beli 3 ekor saja = 6 potong.
2. BAHAN2 YANG HARUS DI IRIS
3. BAHAN2 YANG DIHALUSKAN
4. SANTAN
5. ALAT MASAK
Gunakan alat2 yang tidak terlalu makan biaya. Hidup sudah semakin susyah man! *alesan.
>> CARA MEMBUAT :
Setelah umub (baca : matang), maka kalian akan terkejut.
Ikan yang cuman 6 potong plus tahu yang di iris, akan jadi buanyak porsi.
Lihat gambar :
porsi segitu terdiri dari 2 potong ikan plus 7 potong tahu. Hanya untuk sekali makan. Brarti masih bisa makan 2 kali lagi dengan porsi yang sama. Jika ingin lebih irit, maka bisa makan separo porsi. Dengan demikian, masakan tersebut bisa buat 2 hari.
IRIT KAN???
catatan tambahan : uang yang habis buat belanja Rp. 9.700,- . Cuman segini man...!! Bisa buat makan 3 kali!
BON APPETITE!
Monday, June 30, 2008
KUBURAN

Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pemakaman ayah seorang sahabat. Mengikuti prosesi pemakaman tersebut dengan penuh kidmat. Step by Step, hingga jasad yang terbungkus kain kafan itu telah tertimbun rata dengan tanah merah. Sendirian dalam ruang yang lembab, gelap dan sempit. Entah untuk berapa waktu lamanya….
Jadi teringat akan mendiang ayah dan ibu yang juga mempunyai nasib yang sama dengan nasib ayah kawanku tersebut. Ayah dan Ibu telah menjalani kesendirian, kelembaban, kegelapan, dan kesempitan dalam kurung waktu hampir dua tahun lamanya. Dan entah sampai kapan harus demikian ….
Menyenangkankah kondisi di dalam sana? Jika jawabnya ya, maka bersyukurlah kakek & nenek yang telah menindiami ruang tersebut hampir berpuluh tahun lamanya. Namun jika jawabnya tidak, duh….. betapa tersiksanya orang-orang yang telah meninggal sebelum eyang tercintaku ini.
Bedigik diri ini membayangkannya.
Membayangkan hidup dalam kondisi yang tak menentu dengan kurun waktu yang tak menentu pula membuat hatiku sedikit bergetar. Sanggupkah aku?? Tidak penting lagi jawabannya, karena toh sebagai makhluk yang terlahir hidup di dunia ini pasti akan mengalami fase kematian.
Lalu bagaimana untuk menghadapi kematian yang pasti datang itu sehingga jawaban atas pertanyaan diatas menjadi sangat berarti?
Masih begidik….. dan semakin begidik kala melihat dosa yang menumpuk dalam diri ini. Dosa-dosa yang harus ditebus dengan ganjaran setimpal.
Mencoba untuk mengkalkulasi :
Jika Aku mati kemudian mengalami masa penebusan dosa di liang kubur seperti cerita-cerita para tetua itu, dan kehidupan di luar sana masih terus berjalan hingga anak cucuku meninggal, dan kehidupan masih terus berjalan hingga generasi-generasi berikutnya, maka …… *mencoba dengan hitungan yang lebih pasti :
1 tahun usia kematianku + 60 tahun masa hidup anakku (dengan asumsi umur rata-rata orang Indonesia maksimal 60 tahun) + 60 tahun masa hidup cucuku + 60 tahun buyut + 60 tahun canggah + ….
Jika kehidupan di alam kubur berhenti sampai dengan meninggalnya Si Canggah, maka paling tidak aku harus merasakan hidup dialam kubur sekitar 241 tahun. Wakkss!!! Lama juga ya… sangat lama bahkan untuk kehidupan yang kita tidak tahu pasti kondisinya.
Lalu…. Bagaimana dengan pendahulu yang telah meninggal itu? Tentunya semakin lama lagi mereka hidup di dalam ruang yang lembab, gelap, dan sempit tersebut.
Jadi sedikit mengerti tentang ajaran para tetua untuk rajin ziarah. Dengan ziarah mengingatkan kita akan mati. Ingat mati, jadi bisa memotivasi diri untuk menjadi lebih baik lagi, hidup dengan menjadi pribadi yang baik akan membawa dampak kebaikan pula bagi lingkungan sekitar, kemudian kebaikan akan tumbuh dalam cakupan yang semakin luas. Jika semua menjadi baik, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hidup maupun mati …..
Namun sayangnya, hanya sedikit orang yang “ingat akan mati”. Dan aku masih tidak termasuk di dalam yang sedikit itu.
Tanah merah itu sudah tertutup dengan taburan kembang, dan mulai ditinggalkan satu persatu pelayatnya.
Sepi
Jadi teringat akan makam ayah dan bunda yang sudah lama tak aku kunjungi. Rindu ini menggigit hatiku ….
Subscribe to:
Posts (Atom)