Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts

Tuesday, February 3, 2009

ZOMBIE, IS THAT YOU?


Kawanku masih saja meracau. Menceritakan segala kegundahannya, tentang sebuah waktu yang tersia-siakan.

+ Berapa lama kamu menyia-nyiakan waktumu seperti ini?

- Baru Satu setengah tahun sih.

+ Hehehe… Baru ya? Berarti kamu termasuk hebat.

- Kok?

+ Jika aku jadi kamu dengan kondisi yang menyiksa bathin seperti itu, mungkin hanya tahan paling lama 3 bulan. Selebihnya akan memilih menjalani hidupku tanpanya.

- Tidak semudah itu wie, selama dalam kurun perjalananku, setelah ayahku meninggal dan aku harus dibebani oleh tanggung jawab di keluargaku, dia telah menggantikan figur ayah yang aku butuhkan.

+ Seberapa banyak dia bisa memberikan kontribusi pada hal tersebut?

- Aku bergantung padanya untuk satu hal itu.

+ Lalu, kenapa kamu mengeluh?

- Aku hanya merasa tertekan dan terkadang merasa lelah dengan cara dia melindungiku yang terlalu berlebihan itu.

+ Masih sanggup menahan lelah dan ketertekanan itu?

- Jujur tidak, tapi… aku takut kehilangan dia. Takut kehilangan tempat bersandar seperti kala aku bersandar kepada ayahku..

+ Hidup adalah pilihan kawan. Kamu bisa mendapatkan tempat bersandar tapi bathinmu tersiksa, atau bathin kamu terbebaskan dari belenggu itu namun kamu harus mencari sandaran ditempat yang lain. The ball is in your hand, so use it wisely.

- aku takut wie.. Jika aku meninggalkannya dan mendadak kebutuhan akan sandaran jiwa itu muncul sementara aku belum menemukan sandaran yang lain… aku pasti akan limbung.

+ Pasti? Kenapa kamu memastikan sesuatu yang bahkan kamu sendiri belum menjalaninya? Itulah yang dinamakan rantai pikiran. Kamu memasang rantai pada pikiranmu sendiri sehingga membelenggu gerak langkahmu. Free your mind dear..

Kawanku terdiam, memainkan ujung bajunya. Dia sedang mencerna kalimatku, dan kubiarkan dia dengan waktunya itu.

Dulu, kala harus memilih meninggalkan kekasih hati karena setitik kesalahannya, aku harus menghabiskan hampir 6 tahun lamanya untuk dapat benar-benar “meninggalkannya”. Dalam setiap pelabuhan hati yang hampir aku singgahi, biasanya aku hanya mengamati dari pinggiran, membandingkan dengan yg lalu, kemudian meninggalkan pelabuhan itu karena merasa tak seperti yang terdahulu. Selalu seperti itu. Tak terhitung berapa banyak pelabuhan yang harus melambai sedih kearah kapal layarku. Hingga kalimat seorang kawan telah menyadarkanku,

“Tak ada pelabuhan yang benar-benar sama persis wie. Jika kamu ingin yang seperti pelabuhan terdahulu, jalan satu-satunya merapatlah kesana kembali.”

Haruskah aku memutar arah kemudi ini kembali ke pelabuhan yang entah sudah berapa jauh aku tinggalkan? Ah…. Egoku berkata tidak! Biarlah aku meneruskan pelayaran ini, meskipun harus sendiri melawan badai rindu yang kerap kali datang & melawan dinginnya udara cinta yang belum juga bisa menghangatkan hati ini. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah mencari pelabuhan hati lain tanpa harus membandingkannya. Melepaskan rantai jangkar yang masih tertinggal di pelabuhan terdahulu & memulai pelayaran ini dengan kebebasan penuh.

Dan… Yihaaaaa….!

Setelah benar-benar bebas berlayar, ternyata aku menemukan pelabuhan yang telah membuatku terpukau. Sebuah pelabuhan dengan kelembutan desau angin yang membuatku terbuai, hangatnya sinar mentari yang membuatku tak takut untuk terbakar, dan eloknya sang senja untuk menemani rebahnya diri ini dipeluk sang malam. Cinta…. Yah! Kurasakan getar-getarnya menyentuh setiap mili dari nadi ini. Pelabuhan ini telah membuatku mencinta lagi! Sebuah cinta yang kemarin sempat aku ragukan masih ada dan tersisa. Cinta yang aku pikir telah tertinggal semua di pelabuhan terdahulu. Aaaaaahhhh….. kubiarkan tiupan lembut sang pawana mengurai bebas rambut ini. Legaaa…. Dada ini terasa longgar untuk menerima asupan udara sebanyak apapun.

Ternyata, untuk menemukan rasa yang menyenangkan seperti ini hanya dibutuhkan keberanian. Sebuah keberanian untuk melalui sesuatu yang bahkan kita tak pernah tahu kondisinya.

Kawan,

Terkadang, bayangan yang ada di pikiran kita itu tak semenakutkan kenyataan. Namun sebagian orang memilih untuk membelenggu pikiran-pikiran mereka dengan terlalu banyak pertimbangan. Alih-alih ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, namun yang didapat hanyalah kehampaan.

Dan kehampaan hidup adalah bentuk nyata dari zombie, alias mayat hidup. Hari-hari yang dilalui hanya untuk menunggu mati yang sebenar mati. Senang, namun tak bahagia. Sedih, namun tak berasa. Sebuah hidup yang teramat sia-sia …

Telah kutanggalkan semua rantai pembelenggu itu, dan aku siap mengarungi hidup dengan lebih berani lagi. Tak hendak meminta bekal apapun, hanya sepenggal waktu untuk menjalaninya. Toh aku aku bukan senapan, yang saat dibutuhkan bisa langsung ditembakkan…

Bagaimana dengan kamu?

Tuesday, January 20, 2009

ORANG SUSAH

Membaca tulisan Gde Prama yang berjudul “Orang Brengsek Guru Sejati”, mengingatkanku akan sosok manusia ini.

Dalam setiap perbedaan pendapat yang terjadi, si manusia ini selalu mengedepankan emosi. Dia selalu ingin tampil paling benar dengan pendapatnya dan jarang sekali mau mendengarkan pendapat yang lain. Alhasil, dalam setiap komunikasi yang terjalin selalu saja berakhir tragis. Menggantung dan menimbulkan rasa tidak enak pada lawan bicaranya.

Sebagai seorang kawan yang juga pernah berselisih paham dengannya, saya pernah mengingatkan akan kondisi tersebut. Tentang kebiasaannya dalam mengedepankan emosi dan tentang “pembelajaran” yang selalu dia lewatkan. Namun karena emosi dan rasa selalu benar lebih mendominasi dalam dirinya, maka setiap masukan yang tersaji tidak pernah benar-benar mengubah dia menjadi pribadi yang lebih hangat. Yang lebih parahnya lagi, dia menyampaikan bahwa setiap masukan itu tidak harus selalu dia turuti, sebaik apapun masukan itu bagi perubahan personalitinya.

Orang-orang yang demikian banyak kita jumpai disekitar kita. Orang-orang yang dihadirkan untuk menguji kesabaran kita. Orang-orang yang dihadirkan supaya kita dapat belajar darinya, bahwa menjadi personaliti seperti itu sangatlah menjengkelkan dan tidak layak untuk ditiru. Bahwa ingin menjadi selalu benar tidaklah selalu baik. Bahwa memaklumkan setiap emosi negatif yang keluar adalah merusak kewajaran.

Kenapa saya bilang demikian?

Bayangkan jika kemudian dalam setiap kesempatan diskusi atau jenis komunikasi apapun yang terjalin, kita mengabaikan masukan-masukan yang sebenarnya bisa menjadi berkah tak terhingga bagi peningkatan kualitas hidup kita, hanya karena kita selalu merasa diri benar.

“Kata siapa saya seperti itu?”
“Ohya? Saya seperti itu ya?”

Dua kalimat berbeda yang merujuk pada satu pernyataan, namun memberikan efek yang berbeda.

Kalimat pertama jelas telah menutup perubahan kebaikan dalam dirinya karena si empunya telah merasa diri benar, sehingga tidak perlu lagi mendengarkan yang lain.
Kalimat kedua, akan muncul sebuah kontemplasi yang masih memungkinkan terjadinya perubahan kearah kebaikan.

Mendengar, setiap manusia yang diberi pendengaran yang berfungsi dengan baik pasti bisa melakukannya. Namun mendengarkan, tidak semua orang bisa melakukannya.
Dibutuhkan kerendahan hati untuk mau melihat dalam diri terhadap kekurangan-kekurangan yang tidak kita rasakan. Kekurangan yang mungkin hanya bisa dilihat oleh orang lain.

Beruntunglah orang-orang yang diberi kerendahan hati dalam melihat kekurangan diri yang tersampaikan, orang-orang yang saya yakin akan menjadi pribadi yang hebat dikurun waktu yang terlewati.

Dan merugilah orang-orang yang tidak pernah mau berubah itu. Orang-orang susah yang kelak tak akan pernah tahu nikmatnya melewati sebuah fase perubahan dalam dirinya. Sebuah kenikmatan yang tak ternilai harganya, karena selalu ada senyum yang akan mengembang kala mengenang fase perubahan yang telah terlewati.

Semoga kamu tidak menjadi bagian dari orang susah itu…

Wednesday, January 14, 2009

JALAN YANG JARANG DILALUI


Malam tadi, untuk kesekian kalinya sang kawan meneleponku menyatakan kegundahan hatinya.

+ Aku masih gamang…

- Pertanyaanku cuman satu kawan, apa yang dikatakan oleh hatimu?

+ Menerima lamarannya

- So?

+ Tidak semudah itu. Terlalu banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan.
Tentang statusnya, tentang masa lalunya, tentang pandangan keluarga besarku,
tentang reputasiku, tentang.. banyak deh!

- Kenapa harus ada banyak pertimbangan yang pada akhirnya malah membebani langkahmu?
Toh kata hatimu sendiri sudah jelas mengatakan jalan mana yang seharusnya kamu tempuh kan?

+ Kita hidup di negara yang melazimkan kita untuk berlaku demikian terkait dengan adat,
budaya, dan norma-norma yang telah berlaku.

- Ternyata kamu tidak sespecial seperti yang aku kira kawan.

+ Kok?

- Karena kamu menempuh jalan yang ditempuh oleh orang kebanyakan.
Kamu tidak berani mengambil jalan lain, jalan yang akan membuat kamu menjadi pribadi
yang berbeda. Jalan yang mungkin bisa lebih cepat mengantarkanmu kearah yang hendak
kamu tuju. Yaitu kebahagiaan..

Sang kawan terdiam lama. Kemudian …

- Aku iri sama kamu. Kamu mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh banyak orang.
Berani menentukan jalanmu sendiri. Dan sepanjang pengamatanku kamu selalu tampak
bahagia dengan jalan yang kamu pilih sendiri tersebut.

+ Tidak selalu bahagia. Terkadang ada penyesalan-penyesalan yang menghampiriku.
Penyesalan yang kemudian baru kutahu terlalu sedikit jika dibandingkan dengan kebahagiaan
hati yang aku dapatkan. Sebuah penyesalan yang tidak sebanding dengan nikmatnya bisa
menghalau segala resiko yang aku temui di jalan yang jarang dilalui tersebut.

- Thanks wie…

Kawan,

Terkadang kita dihadapkan pada satu persimpangan jalan kehidupan. Jalan bercabang yang terbentang didepan mata dimana kita diharuskan untuk menentukan jalan mana yang hendak dilalui.

Banyak orang akan memilih jalan yang sering dilalui oleh yang lain, sebuah jalan dengan rerumputan yang sudah mati karena terlalu seringnya diinjak-injak orang yang melewatinya, jalan yang bebatuan penghalangnya sudah tersingkirkan oleh pendahulu-pendahulu yang melewatinya, jalan yang saat kita lalui tidak memberikan efek kejut –sebuah efek yang bisa membuat debar jantung kehidupan kita lebih berirama, sebuah jalan yang datar…. Yang pada saat kita bisa mencapai ujung jalan itu, tidak ada rasa kepuasan berlebih, karena kita sudah bisa menduga ujung jalan yang kita lalui tersebut.

Sementara dibagian jalan lain, sebuah jalan yang jarang dilalui. Dimana saat melewatinya kita masih bisa merasakan nikmatnya bersentuhan dengan tetes embun yang membasahi rerumputan, asyiknya berkegiatan memindahkan segala bebatuan penghalang, sebuah jalan yang kala kita bisa sampai pada ujungnya akan memberikan kepuasan bathin. Sebuah kebahagiaan yang merasuk ke relung hati terdalam yang tak tergantikan dengan apapun juga…

Saya pernah merasakan betapa indahnya mencinta, merasakan bahagiannya tertawa, juga merasakan sedihnya tetes airmata yang membasahi diri. Pernah merasakan arti memiliki, juga merasakan arti kehilangan.

Dan saya tak menyesali apapun yang telah terjadi, karena saya melakukan semunya dengan jalan saya. Kemudian, saat masa itu sudah dekat, saya akan menyongsongnya dengan senyum kebahagiaan, karena saya telah memilih jalan kehidupan saya sendiri.

Sebuah jalan yang jarang dilalui …

Wednesday, December 17, 2008

MENIKAHLAH DENGANKU

Si gadis sontak memerah kala lelaki itu melontarkan kata-kata tersebut. Senang dan bimbang bergejolak jadi satu. Senang karena sebagai seorang wanita tentunya hal tersebut sangat menyentuh perasaan. Diajak menikah dengan seseorang yang dicintai adalah suatu kehormatan tersendiri, permintaan yang tak tergantikan dengan berjuta keindahan yang lain. Namun usia yang masih belum cukup matang membuat si gadis bimbang. Bimbang karena masih belum yakin apakah lelaki tersebut adalah yang terbaik untuknya. Ataukah masih ada lelaki lain diseberang waktu yang ternyata lebih baik lagi untuk dia anggukkan kepala kala kata ajakan tersebut terlontar.

Dan, si gadis memilih untuk menunggu waktu yang menurutnya tepat. Sembari menanti lelaki lain diseberang waktu yang mungkin ada. Kemudian pergilah sang lelaki tersebut, meninggalkan si gadis yang sesaat tertegun sedih.

Namun ternyata ketertegunan itu tidak sesaat, berkepanjangan, bahkan bertahun-tahun lamanya kesedihan masih bergelayut di wajah cantik si gadis. Aku bodoh! Kenapa tidak aku terima tawaran menikah itu sehingga tidak perlu kehilangannya. Kehilangan lelaki yang ternyata teramat dia cintai dan dia butuhkan untuk menemani sisa harinya di dunia ini. Semakin sedih lagi kala si gadis tahu bahwa beberapa lelaki yang dia temui diseberang waktu ternyata belum ada yang bisa menggantikan sosok si lelaki. Sosok ideal yang dia harapkan sebagai penanam benih di rahimnya kelak.

Nasi sudah menjadi bubur, dan si gadis harus mulai sadar dengan keadaan yang ditawarkan. Melupakan si lelaki dan mulai menyambut kehadiran yang lain, atau diam terpaku di depan pintu kebahagiaan yang telah tertutup untuknya.

Memilih yang lain. Itulah akhirnya yang menjadi pilihan si gadis, kala dia menemukan sosok unik yang lain. Sosok yang bisa membuatnya terlupa akan segala kesedihan di masa lampau. Sosok yang kemudian dengan berjalannya waktu juga menyampaikan kata keramat yang sama,

“MENIKAHLAH DENGANKU”

Sontak si gadis menganggukkan kepala, merangkul penuh haru lelaki tersebut, dan menulis sebuah janji dalam hati bahwa tak akan dia sia-siakan tawaran si lelaki dengan menyia-nyiakan kehidupan mereka berdua kelak. Ya! Belajar dari pengalaman, si gadis tak lagi bimbang dan menunggu sesuatu di ujung waktu yang belum jelas ujudnya. Si gadis sudah cukup merasa nyaman berada disamping lelaki yang ini, dan itu sudah cukup buatnya.

Namun ternyata, garis hidup berkata lain.

Mereka berdua tak pernah melaju ke jalan pelaminan. Janji yang tertulis, kandas di hantam sebuah ombak perbedaan yang tak bisa ditoleransi oleh kokohnya karang cinta.

Dan belajar dari pengalaman lagi, si gadis tak mau berdiam diri terlalu lama di pintu kebahagiaan yang telah tertutup paksa untuknya. Dia segera pergi dan berlalu dari situ, dan mulai menemui lelaki-lelaki lain lagi diseberang waktu.


Banyak, teramat banyak bahkan yang datang kepadanya. Namun tak satupun yang bisa menggetarkan hati si gadis. Bukan karena dia masih terbelenggu oleh sosok di masa lampau, namun si gadis mulai selektif.

Lelaki satu, baik, kaya, namun termasuk pria manja. Dan si gadis tak menyukainya, maka beralihlah dia.

Lelaki kedua, baik, tidak manja, tidak romantis. Si gadis masih berlalu

Lelaki ketiga, baik, romantis, tidak manja, tidak juga kaya. Si gadis tetap berlalu

Lelaki ke empat, baik, romantis, tidak manja, kaya, namun tidak dewasa. Dan….. si gadis…. Mulai merasa lelah.

Terpekur sendiri disepinya waktu.

Haruskah aku bersyukur atau menyesal???

Disyukurinya bahwa hingga detik ini dia bahkan tak pernah benar-benar tahu apa itu arti tidak dicintai. Namun kenapa lelaki-lelaki yang datang itu selalu sosok yang bukan dia inginkan?? Kenapa pada saat dia sudah menemukan sesuatu yang pas, tetap saja itu harus terenggut darinya??

Si gadis terdiam, mencoba mencari sendiri akan jawaban pertanyaannya itu.

Hingga akhirnya dia menemukan jawab tersebut.

Yang harus aku sesali adalah kebodohanku sendiri. Kebodohan yang tidak pernah melihat sesuatu dengan hati. Kala hati berdengung keras mengatakan tentang pilihannya, dia abaikan hanya karena sebuah pemikiran yang didasari oleh pandangan kasat mata yang serampangan dalam menentukan sebuah nilai. Bukankah Tuhan memberikan sesuatu itu atas dasar apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan oleh umatnya? Karena Tuhan pulalah yang paling tahu apa yang menjadi kebutuhan sang umat tersebut.

No body’s perfect rite?

Kemudian berkacalah si gadis di sebuah cermin kejujuran, dan ditemukan banyak kekurangan dalam dirinya. Teramat banyak malah. Jadi, sangat tidak fair jika si gadis kemudian menuntut sebuah kesempurnaan dibalik kekurangan diri yang sangat banyak itu.

Aah… sekarang aku tahu jawabnya!

Sebuah jawab yang kelak disampaikan kepada lelaki itu kala berucap,

MENIKAHLAH DENGANKU!


Ps : aku dedikasikan buat seorang kawan yang masih ragu akan kata hatinya. Hidup terlalu indah untuk diisi dengan printilan-printilan masalah yang tidak penting untuk dibahas sob!

Thursday, December 11, 2008

THE DANCE

#the dance…. I would have miss the dance….


Dan semenjak mendengarkan lagu itu, kecintaanku terhadap segala jenis musik mulai berubah.

Dulu, semua musik terasa enak terdengar ditelingaku. Dari jenis musik yang isinya hanya lenguhan-lenguhan ga jelas seperti beberapa lagunya Sepultura, sampai ke Halo Dangdutnya Kak Roma selalu bisa memberikan kontribusi positif dalam menetralisir mood yang sedang tak menentu.

Namun setelah mendengarkan Dave Koz berkolaborasi dengan Bebe Winans membawakan lagu The Dance tersebut, aku mulai berubah haluan.

Lagu-lagu milik Keris Patih, Ungu, Kangen Band, dan grup musik papan atas Indonesia lainnya yang sering diteriakan oleh penggemarnya dengan teriakan “waaw…. Gue bangettt…!” tidak menarik telinga ini untuk ikut serta mengidolakannya. Hanya menikmati sesaat, selebihnya? Berlalu dengan anggun...

Bukan ingin sok jumawa, namun begitulah yang aku rasakan saat ini.

Terlepas dari itu semua, keajaiban musik memang sungguh luar biasa. Musik bisa menghipnotis orang untuk berlaku sesuai dengan ritme yang terdengar. Musik yang menghentak-hentak akan memacu orang untuk bergerak sesuai hentakan musik itu, demikian pula musik yang mengalun lembut dapat menentramkan hati yang sedang bergejolak. Syair lagupun tak kalah berpengaruhnya dalam memainkan emosi seseorang.

Pertanyaan konyol yang kemudian terlintas, jika sebegitu dasyat kekuatan musik dalam mempengaruhi orang, kenapa kita tidak mempergunakannya sebagai senjata dalam mencapai setiap tujuan yang diinginkan? Dengan begitu penggunaan kekerasan bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Perangpun tak perlu berkobar di bumi yang semakin panas ini.

Jika ingin mendapatkan pekerjaan, sampaikan saja dengan nyanyian. Ingin kedudukan, komunikasikan dengan syair yang merdu merayu. Ingin melakukan tawar menawar, utarakan dengan rangkaian melodi dan kata yang enak terdengar, dan seterusnya.

Bayangkan….. ....

Seandainya kondisi itu benar-benar tercipta, seperti saat sang cinta hendak menyuguhkan keagungannya lewat lagu dan kemudian mampu merobohkan tembok keangkuhan dengan seketika. Atau kala sedih menjalar namun segera terobati dengan syair yang istilah gaulnya ‘gue bangeettt..’ karena bisa merepresentasikan kondisi diri sehingga kesedihan tak lagi berarti.
Aaaahh…. Pasti akan indah banget ya…

Tapi permasalahannya tidak semua orang punya bakat mencipta lagu wie!

Ah, bakat itu kan bisa diasah. Itu kan tergantung persepsi seseorang dalam melihat kualitas diri.

Ketika aku mengatakan aku tidak mahir di alat musik, maka kondisi itulah yang tercipta. Padahal saat diajari bermain gitar sama mapus, sekali sentuhan tangannya langsung bisa membuat aku memainkan lagu #sooo kiss me and smile for me….. yaah… meskipun hanya satu lagu itu yang bisa aku mainkan. Selebihnya aku memilih untuk mempersepsikan diri tidak pandai di jenis alat musik apapun.

See???

Itu hanya masalah persepsi diri guys!

So, persepsikan dirimu sebaik mungkin maka kebaikan pula yang akan tercipta dalam dirimu!

SELAMAT BERNYANYI!


# and know I’m glad I didn’t know
the way it all would end
the way it all would go
our lives are better left to change
I could have miss the pain
But I don’t have to miss the dance
I would have miss the dance …#

*kecebur got, keasyikan nyanyi


Monday, November 10, 2008

HOW JAWA ARE YOU?

Suatu kali seorang kawan pernah bertanya kepadaku :

Kawan : Pilih mana, Suami ekspat atau Indo?
Aku : Jawa
Kawan : hahaha…cerdas! Jawabanmu membuatku berhenti mengejar dengan pertanyaan selanjutnya. Eh, tapi kenapa Jawa?
Aku : karena aku wanita Jawa

Terkesan sukuisme ya?

Lha meh piye meneh? (lha mau gimana lagi?)

Aku dibesarkan di keluarga yang semi feodal. Ayahku, priyayi Jawa tulen yang “harus laden”. Semuanya serba diladeni. Mulai dari baju yang harus sudah tersedia saat beliau hendak memakainya, sepasang minuman (teh & air putih masing-masing segelas besar) yang harus selalu terisi sehingga saat beliau hendak minum tidak perlu mencari-cari ke dapur lagi, plus penyajian makanan yang harus tertata rapi. Ada kobokan (tempat cuci tangan), serbet, sendok, piring, dan gelas air, semua harus tertata sesuai tempatnya. Jika penataannya kurang satu saja bisa dipastikan ayahku tidak akan memulai acara makan bersama itu.

Ribet ya?

Bagi orang lain mungkin iya, tapi tidak buat ibuku. Ya! Ibuku memang wanita jawa sejati, dimana ajaran-ajaran sebagai wanita jawa yang sekedar konco wingking (teman dibelakang) benar-benar dihayatinya, sehingga untuk melakukan hal-hal tersebut diatas bukanlah beban bagi beliau. Menurut ibuku, seorang wanita itu harus pandai di dapur, di kasur, dan di sumur. Salah satu ajaran dari beliau yang sangat aku sukai. Mengandung filosofi yang sangat dalam. Seyogyanya seorang wanita memang diharuskan pandai dalam urusan dapur, mulai dari memasak hingga mengelola keuangan yang berhubungan dengan itu. Juga seorang wanita diharuskan pandai memuaskan hasrat kelaki-lakian sang suami sehingga rumah tangganya bisa terselamatkan dari bahaya-bahaya laten yang kemungkinan bisa merongrong keharmonisan keluarga. Selain itu seorang wanita diharuskan pandai dalam hal menjaga kebersihan dan mempercantik rumah sehingga menjadi hunian yang nyaman untuk ditinggali.

Kodrati seorang wanita.

Sehebat apapun dia, saat kembali ke rumah selaiknya dia kembali menjadi seorang wanita yang memang hanya konco wingking (baca : supporter) bagi suaminya. Berbau gender ya?? Menurut saya, inilah kepandaian kita (kaum wanita, red) dalam memposisikan diri. Kapan kita harus menonjol dari kaum lelaki dan kapan kita harus kembali ke kodrati.














Saya??


Ya.. ya.. saya akui, dalam hal pekerjaan dan pertemanan, saya memang cenderung dominan, powerful, dan pandai dalam mengorganisasi orang-orang di sekitar saya (tidak peduli laki-laki maupun perempuan) untuk melakukan apa yang saya inginkan. Tidak hanya itu, pekerjaan laki-laki yang mungkin bagi sebagian wanita tidak mampu (lebih tepatnya tidak mau) untuk dilakukan saya bisa melakukannya. Semisal, membongkar pasang dispenser, membersihkan dan merapikan kabel-kabel elektrik (saya termasuk wanita yg suka kerapian dan kebersihan), serta hal-hal lain yang berhubungan dengan mekanikal elektrikal. Biasanya jika terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya, saya akan cari tahu dahulu sumber masalahnya, jika bisa saya selesaikan sendiri maka saya tak perlu bantuan orang lain untuk menyelesaikannya. Orang lain adalah pilihan terakhir dalam segala masalah yang saya alami. Then, they call me wonder woman. Hehe… terlalu berlebihan memang kawan-kawan saya itu.

Namun…..

Saat saya kembali ke pelukan lelaki terkasih, saya menjadi pribadi yang tidak sehebat itu. Cenderung menjadi wanita kebanyakan yang lemah, butuh perlindungan dan pertolongan dari hebatnya dia. Sengaja saya melakukan itu, semata-mata untuk membuat kehadiran dia begitu berarti bagi saya. Dan, dibawah ketiaknya lah semua perkataan dia yang bermuatan positif pasti akan saya turuti.

Lalu, kenapa harus laki-laki Jawa?

Ya…. Karena saya wanita Jawa, yang harus bernaung dibawah ketiak laki-laki. Laki-laki Jawa dengan stereotipenya yang harus merbawani (penuh wibawa), penuh tanggung jawab, dan halus (baca : lembut) terhadap perempuan. Sehingga dengan kewibawaannya maka powerful saya tak akan keluar, tanggung jawabnya membuat saya tak perlu mengambil-alih tugas-tugas yang tidak seharusnya menjadi pekerjaan saya (sebagai wanita jawa, red), dan kehalusannya mampu menjaga perasaan saya yang sudah di set sejak awal untuk demikian adanya.

Kalau hanya itu, kan tidak harus laki-laki Jawa?

Aku suka dipanggil nduk…

Apalagi jika itu diucapkan dengan lafal yang kental unsur Jawanya. Panggilan tersebut selalu bisa menyentuh sisi romantismeku dan membuatku terbang ke awang-awang. Mengingatkanku akan perhatian dan kemanjaan yang diberikan oleh ayah dan kakak laki-lakiku saat mereka memanggilku dengan cara demikian. “wis maem nduk?” , kene nduk, cah ayu, Bapak meh ngendikan…” Wuiiiihhh….. saya merindukan masa-masa seperti itu….

Halah! Hal itu juga bisa dilakukan oleh orang non Jawa kaleee…..!

Jika saya menikah dengan orang Jawa, maka saya tak perlu menerangkan arti kata-kata seperti tersebut dibawah ini :

Wagu ik!
Weeh… kamso!
Makjegagik!
Sirahku makcleng!
Makbedundug!
Ngepot-ngepot!
Makdesss!
…

Terlalu susah bagi saya yang simpel ini untuk mencari-cari padanan katanya. Padahal saya itu Jawa byangeett yang terkadang merindukan bercakap-cakap menggunakan bahasa tersebut.










Kamu?

Iya, kamu yang ngaku-ngaku orang Jawa, tahu artinya kah?

Wednesday, October 8, 2008

MAS HERCULES & WIWIKWAE




Miss_A : Pulang Besok aja napa? Naek Hercules, malah cepet, kamu ga perlu
bermacet-macet ria di jalanan, dan malam ini kita masih bisa jalan-jalan.
Aku : Naek Hercules? Pesawat nya AU? Waah…. Boleh juga tuh. Aku belum pernah
merasakan naek pesawat angkut seperti itu.
Miss_A : Pastinya seru. Kapan lagi kamu bisa naek pesawat bergelantungan kalo ga di
Hercules? Kalo beruntung, kamu malah bisa bareng sama sapi dan kebo dalam satu
kabin. Itu kan kesukaanmu banget.


*Lemparan ketupat melayang ke arah Miss_A


Dan siang itu semua urusan mengenai Mas Hercules (kemudian aku menyebutnya seperti ini) terselesaikan. Besok siang jam 14.00 dari Lanud Angkatan Udara Adisucipto Yogya, Hercules yang membawaku ke Jakarta diberangkatkan. Acara senang-senang kami hari itu pun bisa berlanjut tanpa berkendala lagi. Menyambangi kawan-kawan lama, makan-makan, cerita tentang banyak hal di masa lampau yang membuat kami tersadar betapa konyolnya kami kala itu, makan-makan lagi, dan menyusuri Jogja mengenang berjuta kenangan ……. Damn! I’m truly in love with this city!


Pukul 11 Hari berikutnya.

Telepon seluler Miss_A berdering, tampak dia bercakap-cakap sejenak, kemudian …
Miss_A : Baksonya enak ya?
Aku : Iya, rasanya masih sama kayak yang dulu. Ga percuma kita jauh-jauh kemari.
Miss_A : Dengan kata lain akan sangat sayang kalo tidak dihabiskan tho?


Dahi ku berkerut sejenak,

Aku : Pesan penting apa yang hendak kamu sampaikan? Ga usah berbelit-belit gitu deh.
Miss_A : Mas Hercules berangkat jam 12.00 jadi sekarang dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya kita harus sampai ke DAAU.


Kyaaaaaaa…..!!!


Tanpa ba bi bu lagi, setelah melakukan pembayaran dan melirik sebentar ke arah mangkok yang masih menyisakan dua pentol bakso itu, kami langsung tancap gas menuju lokasi. Beruntungnya barang bawaanku sudah dari semalem ngendon dibagasi mobilnya Miss_A, jadi tidak perlu buang waktu pulang kerumah lagi.



Lanud Angkatan Udara Adisucipto Yogya

Setelah melakukan proses administrasi, kami menuju ke ruang tunggu. Begitu banyak orang di situ, ada ibu-ibu yang sedang menggendong bayi, manula, orang-orang berseragam tentara, sampai ke mas-mas perwira yang ….ehem! bikin batuk.

Miss_A : Coba liat mas-mas yang di seberang kita itu.

Spontan aku melihat ke arah yang dimaksudnya

Miss_A : Kalo itu aku rekomen untuk kamu dekati. Selain udah Kapten, jarinya ga ada
cincin kawin, dari tadi dia ngliatin kamu terus. Meskipun wajahnya ga seganteng
orang yang disebelahnya, It’s ok lah.. toh cowok-cowokmu yang dulu juga ga ada
yang ganteng-ganteng banget.


Menohok dalem!!

Dengan wajah penuh kesabaran dan tetap pasang senyum manis, ku tatap wajah sahabat terkasihku itu sembari berkata, “makasih ya…. Kamu perhatian sekali, aku jadi terharu….”

Tampak dari raut wajah Miss_A tersenyum puas penuh kemenangan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 lewat dan belum ada tanda-tanda pesawat hendak diberangkatkan. Sepertinya para kru pesawat kerepotan menata bagasi yang banyak sekali. Maklum, angkutan mudik lebaran …
Setelah melakukan salam perpisahan dengan Miss_A yang hendak melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya, aku pun juga bergegas menuju ke kerumunan orang yang sudah bersiap-siap untuk naik ke Mas Hercules.


Di dalam Herkules

Takjub! Itu kesan pertama yang aku rasakan.
Tempat duduk yang di tata seperti angkutan umum busway, plus railing panjang yang fungsinya untuk berpegangan tangan bagi penumpang yang tidak kebagian tempat duduk serta bagasi yang di tata jadi satu di ruang kabin penumpang, membuatku merasa ini perjalanan paling seru yang pernah aku tempuh.

Fyuuh…. Beruntung aku mendapat tempat duduk, tampak di depanku ibu-ibu setengah tua berdiri kerepotan karena tangannya tak sampai untuk menggapai railing. Dan pemandangan itu membuat hatiku terasa perih. Ku lihat kanan kiri dan baris depanku, tampak beberapa lelaki berseragam yang duduk dengan tenangnya tak merasa terganggu dengan kehadiran ibu tua yang dari tadi masih mencoba mencari celah untuk dapat duduk. Meskipun usahanya itu tampak tidak mungkin dengan padatnya penumpang. Jangankan duduk, berdiri aja mesti empet-empetan kok.

Ah…. Aku jadi tersadar, bahwa ternyata aku tidak sepeduli seperti yang aku kira.
Ternyata egoisme masih juga bercokol dalam diri ini. Terbukti aku tidak juga beranjak menawarkan kursiku kepada ibu itu. Malah sibuk melihat para lelaki berseragam yang tak punya rasa peduli itu, mengutuk mereka dalam hati, dan mencoba melakukan pembenaran terhadap diri sendiri mengenai ketakutanku berdiri di dalam pesawat, takut jika terjadi turbulensi, dan aneka macam pembenaran diri terhadap ketidakpedulianku kali ini.

Maafkan saya ibu…..
Terima kasih telah menyadarkan diri ini untuk tidak memilih kondisi dalam membagi kepedulian terhadap sesama.

Wednesday, August 27, 2008

THE WIND THAT SHAKES THE BARLEY


Sebuah judul film yang mengisahkan tentang perlawanan sekelompok pemuda Irlandia dalam melawan pendudukan Inggris sekitar tahun 1920.

Film ini diputar di Perpustakaan Pendidikan Nasional Jakarta pada tanggal 23 Agustus 2008 oleh Komunitas Jejak Langkah.

Secara keseluruhan, film yang termasuk kedalam kategori film terbaik di Festival Film Cannes 2006 ini hampir serupa dengan film-film perjuangan yang lain (dari sudut pandang seseorang yang bukan kritikus film :p). Ada semangat berkorban, romantisme, politik pecah belah, dan kekerasan.

Namun kemudian aku menjadi tertarik dengan film ini manakala Pak Eddie M. Nalapraya, narasumber yang didatangkan oleh Komunitas Jejak Langkah tak kuasa mengendalikan emosi harunya. Pada sesi diskusi, Pak Eddie tak kuasa menahan airmata saat diminta menanggapi film yang barusan diputar. Beliau seperti diingatkan betapa dulu juga pernah mengalami masa-masa yang dialami pemuda-pemuda Irlandia tersebut. Masa-masa susah, penuh perjuangan dan pengorbanan lahir bathin, sehingga akhirnya anak cucunya tidak perlu mengalami nasib seperti yang dialami beliau dan orang-orang pendahulu kita.

Well, guys..
Pendahulu-pendahulu kita telah melakukan satu langkah pembuka sehingga kita bisa menikmati kondisi yang paling tidak lebih menyenangkan daripada masa penjajahan dulu. Negeri ini butuh generasi-generasi yang bisa menjadi agent of change. Agen-agen pembawa perubahan ke arah yang lebih positif.

Dan itu kamu, aku, juga kalian semua!


INDONESIA BISA!

Monday, June 30, 2008

KUBURAN




Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pemakaman ayah seorang sahabat. Mengikuti prosesi pemakaman tersebut dengan penuh kidmat. Step by Step, hingga jasad yang terbungkus kain kafan itu telah tertimbun rata dengan tanah merah. Sendirian dalam ruang yang lembab, gelap dan sempit. Entah untuk berapa waktu lamanya….

Jadi teringat akan mendiang ayah dan ibu yang juga mempunyai nasib yang sama dengan nasib ayah kawanku tersebut. Ayah dan Ibu telah menjalani kesendirian, kelembaban, kegelapan, dan kesempitan dalam kurung waktu hampir dua tahun lamanya. Dan entah sampai kapan harus demikian ….

Menyenangkankah kondisi di dalam sana? Jika jawabnya ya, maka bersyukurlah kakek & nenek yang telah menindiami ruang tersebut hampir berpuluh tahun lamanya. Namun jika jawabnya tidak, duh….. betapa tersiksanya orang-orang yang telah meninggal sebelum eyang tercintaku ini.

Bedigik diri ini membayangkannya.

Membayangkan hidup dalam kondisi yang tak menentu dengan kurun waktu yang tak menentu pula membuat hatiku sedikit bergetar. Sanggupkah aku?? Tidak penting lagi jawabannya, karena toh sebagai makhluk yang terlahir hidup di dunia ini pasti akan mengalami fase kematian.

Lalu bagaimana untuk menghadapi kematian yang pasti datang itu sehingga jawaban atas pertanyaan diatas menjadi sangat berarti?

Masih begidik….. dan semakin begidik kala melihat dosa yang menumpuk dalam diri ini. Dosa-dosa yang harus ditebus dengan ganjaran setimpal.

Mencoba untuk mengkalkulasi :

Jika Aku mati kemudian mengalami masa penebusan dosa di liang kubur seperti cerita-cerita para tetua itu, dan kehidupan di luar sana masih terus berjalan hingga anak cucuku meninggal, dan kehidupan masih terus berjalan hingga generasi-generasi berikutnya, maka …… *mencoba dengan hitungan yang lebih pasti :

1 tahun usia kematianku + 60 tahun masa hidup anakku (dengan asumsi umur rata-rata orang Indonesia maksimal 60 tahun) + 60 tahun masa hidup cucuku + 60 tahun buyut + 60 tahun canggah + ….

Jika kehidupan di alam kubur berhenti sampai dengan meninggalnya Si Canggah, maka paling tidak aku harus merasakan hidup dialam kubur sekitar 241 tahun. Wakkss!!! Lama juga ya… sangat lama bahkan untuk kehidupan yang kita tidak tahu pasti kondisinya.

Lalu…. Bagaimana dengan pendahulu yang telah meninggal itu? Tentunya semakin lama lagi mereka hidup di dalam ruang yang lembab, gelap, dan sempit tersebut.

Jadi sedikit mengerti tentang ajaran para tetua untuk rajin ziarah. Dengan ziarah mengingatkan kita akan mati. Ingat mati, jadi bisa memotivasi diri untuk menjadi lebih baik lagi, hidup dengan menjadi pribadi yang baik akan membawa dampak kebaikan pula bagi lingkungan sekitar, kemudian kebaikan akan tumbuh dalam cakupan yang semakin luas. Jika semua menjadi baik, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hidup maupun mati …..

Namun sayangnya, hanya sedikit orang yang “ingat akan mati”. Dan aku masih tidak termasuk di dalam yang sedikit itu.

Tanah merah itu sudah tertutup dengan taburan kembang, dan mulai ditinggalkan satu persatu pelayatnya.

Sepi

Jadi teringat akan makam ayah dan bunda yang sudah lama tak aku kunjungi. Rindu ini menggigit hatiku ….

Monday, May 5, 2008

WHERE IS THE LOVE

Tangisan bapak tua itu meraung-raung, menangisi salah seorang keluarganya yang tewas mengenaskan. Disisi lain, beberapa ibu tersedu dengan pandangan hampa menatap deretan rumah yang telah menjadi abu.

Pemandangan yang mengiris hati.

Pedih mata ini melihatnya …

Pulau Seram menjadi semakin seram dengan adanya penyerangan sekelompok orang ke desa tetangga. Korban pun berjatuhan. Sekitar 80 rumah terbakar habis dan 5 nyawa melayang karena insiden ini (sumber : liputan 6 SCTV).

Batas wilayah, itu pemicunya. Sebuah tonggak atau apapun bentuknya, yang ditancapkan hanya untuk memudahkan pemetaan suatu daerah sehingga urusan administratif dapat dijalankan dengan lebih mudah.

Namun kemudahan yang diharapkan ternyata harus dibayar dengan kesedihan. Perang antar desa tercetus. Banyak jiwa ”terluka”, tidak hanya mereka yang terlibat dalam konflik, tapi orang-orang yang tak menyukai kekerasan pun menatap sedih dengan insiden tersebut.

Ah, kemana perginya sang cinta?

Jadi teringat akan Jalur Gaza Palestina.

Ribuan orang menjadi korban akan sengketa wilayah tersebut. Sungguh suatu sengketa yang telah menimbulkan trauma, kebencian, dan dendam yang mendalam pada seluruh penghuninya. Sang anak bersumpah akan membalas dendam terhadap penjagal kepala ayahnya, si cucu bersumpah akan membalas dendam terhadap penyiksaan yang dilalui keluarganya, sang cicit pun tak kalah geram dan dendamnya terhadap kebengisan-kebengisan yang dilihatnya. Terus seperti itu, turun-temurun tiada henti. Amarah, kebencian, dendam, dan keganasan terusa saja tumbuh pada jiwa-jiwa setelahnya.

Dan, karena kurun waktu yang teramat lama itu, konflik pun melebar menjadi beberapa isu. Tentang zionisme, agama, dan (mungkin) masih banyak lagi alasan-alasan untuk ”pembenaran” perang Isral-Palestina.

Miris melihat penderitaan mereka yang tinggal disana. Sedih hati ini melihat anak-anak kecil yang tumbuh dengan dendam membara, pedih mata ini melihat ekspresi ketakutan dan kerut-kerut kewaspadaan yang menghiasi setiap wajah. Teramat sedih.... membayangkan mereka yang hidup tanpa pernah mengenal arti senyum bahagia penuh cinta.

Tapi aku bisa apa???????

Melakukan orasi tentang sebentuk cinta kasih yang menenangkan hati di daerah konflik tersebut???

(tak hendak meminta jawaban)

Aku mungkin memang tak bisa meredakan konflik yang ada, aku hanya bisa berjanji bahwa aku akan menjadi pribadi yang penuh dengan cinta.

Cinta yang aku hadirkan melalui peluk hangat saat dunia terasa kejam untuk dilalui,

Cinta melalui jabat erat tanganku sebagai tanda akulah teman yang akan menemani hari-hari panjang tak menentu ini

Cinta yang aku hadirkan melalui seulas senyum, meskipun tak seindah pelangi, namun aku yakin akan bisa menambah ceria & indahnya pagi

Sebuah cinta sederhana, yang tak hendak meminta imbalan apapun...

Hanya sebentuk harap, semoga kamu pun melakukan hal yang sama.

Bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri ...

People kilin’

People dyin’

Children hurt and hear them cryin’

Can you practice what you preach

Would turn the other cheeck

Father, father, father help us

Send some guidance from above

Cos people got me got me questionin’

Where is the love

Ah cinta …. Kemana perginya??????

*lagi miris dan sedih dengan kekerasan yang sering terjadi

Thursday, December 6, 2007

MISUH

Anjriiiittt….!!
Wassyuuu……!!!
Hoaannjiiingg.!!!
Njiiiingggg..!!!


Ditangannya satu umpatan yang berarti sama bisa tersaji dengan banyak model. (lihat contoh diatas). Aku sendiri tidak tahu apakah itu pertanda bahwa dia kreatif ataukah karena faktor kebiasaan yang sudah mendarah daging sehingga membuat dia menjadi sangat ahli dalam bidang perpisuhan (baca : umpatan).

Ya! Misuh baginya adalah makanan sehari-hari. TIADA HARI TANPA MISUH, mungkin itu jargon hidupnya. Aku bilang begini bukan tanpa alasan, karena semenjak aku mengikuti milis yang dijaga olehnya plus sapaan-sapaannya via YM selalu ada kata-kata pisuhan yang terselip.

seperti pada contoh berikut (dalam YM dia kepadaku) :

aku: padahal aku baru aja bikin tulisan tentang kamu lho
Dia: wasyuuuwww
Dia: mana2

Bahkan tidak cuman itu, dia juga menyuruhku untuk ikut2 misuh seperti dia

Dia: yo kamu semprottttt
Dia: kamu misuh2 ke dia
Dia: beres bukan

What a nice suggest!


Eskopret, orang memanggilnya seperti itu. Orangnya….. ah, terlalu dini bagiku untuk mendiskripsikan dia. Tapi yang jelas aku tahu, dia sangat piawai dalam hal misuh. Bahkan pisuhannya tidak melulu dia tujukan kepada kaum adam, kaum hawa pun yang notabene harus dia perlakukan dengan lembut dan penuh sopan tak luput dari pisuhan2 tersebut.

Tapi entah kenapa tidak ada satu orangpun yang sakit hati terhadapnya, bahkan menurut pengamatanku dia cukup populer dan digemari. Terlihat dari antusiasme para komentator yang berduyung2 mendatangi di setiap posting tulisan di websitenya. Fenomena yang cukup menarik untuk dicermati.

Mungkin karena pisuhan itu tidak dia lakukan dengan hati, hanya sekedar untuk penggembira, maka sajian yang keluarpun tidak pernah menyakiti hati orang2 yang menjadi korbannya. Bahkan aku sendiri –seseorang yang paling anti melihat cowok berlaku tidak sopan terhadap cewek- tidak memungkiri kadang terhibur dengan pisuhannya tersebut.

Misuh, apapun bentuknya, tetap saja suatu tindakan yang tidak bagus untuk dipiara.
Setiap orang sebagai mahluk sosial mempunyai sifat dasar ingin dihargai, pun eskopret itu sendiri. Dan misuh, bukanlah suatu tindakan penghargaan yang layak untuk diberikan kepada sesama kita.

Mungkin sudah saatnya eskopret merubah kebiasannya tersebut, mengingat faktor usia dan jodoh yang hingga saat ini belum dia temukan.

Amatilah tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu
Amatilah kebiasaanmu karena akan mejadi karaktermu
Amatilah karaktermu karena akan menjadi nasibmu

So, bagaimana nasibmu bisa berubah dari juragan
escoret menjadi juragan (baca presiden) Indonesia klo hobi misuhmu itu masih dipiara????

Presiden Indonesia suka misuh???

Apa kata dunia?????


Last but not least, Thanks buat eskopret yang telah berbaik hati memberikan waktunya disela jibunan aktifitasnya untuk mbenerin tampilan blogku.

Ternyata kamu baik juga, pantas kamu sangat digilai…. Eskopret gila! Eskopret gila!

Catatan : Misuh adalah bahasa jawa yang berarti umpatan.

Sunday, August 12, 2007

INDONESIA? HA..HA..HA..


“Halo, nama saya Natasha, nama Indonesia saya Tuti. Alasan saya belajar Bahasa Indonesia karena saya terkesan dengan wisata alamnya….”


“Halo, nama Indonesia saya Yogi, nama Rusia saya Igor. Alasan saya belajar Bahasa Indonesia karena saya menyukai Indonesia. Indonesia itu unik, dengan sejarah perjuangan bangsa yang menarik untuk dipelajari, demikian juga dengan kulturnya.”


Kalimat yang diucapkan dengan aksen Indonesia yang tidak begitu kental dan sedikit terbata-bata tapi cukup lancar bagi seorang Warga Negara Rusia telah menarik perhatian saya. Saya berhenti sejenak pada channel televisi ini, saya ikuti program acaranya yang mengupas tentang keindahan Kota Moscow, Ibukota Rusia.

Berbicara tentang Rusia, mengingatkan saya akan sebuah negara komunis. Sebuah negara yang pada abad ke 20 pernah menguasai 14 negara dari beberapa etnis yang berbeda di kawasan Asia Tengah dan Negeri Balkan, yang kemudian terbentuk menjadi sebuah negara USSR (Uni Soviet Sosialis Republik) atau lebih dikenal dengan sebutan Uni Soviet.

Sebenarnya saya tidak begitu tertarik dengan Sejarah Uni Soviet yang telah berganti nama menjadi Rusia ini, yang menjadi ketertarikan saya sebenarnya adalah para mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Rusia yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia ini.

Entah kenapa saya menjadi terharu ketika mendengarkan alasan mereka memilih jurusan tersebut. Rasa haru yang sama ketika saya membaca sebuah forward email tentang kebanggaan Bapak Yohanes mengantarkan anak-anak didiknya menjadi juara olimpiade fisika beberapa waktu yang lalu.

“Indonesia? Hahaha….. Sudah lupa tuh! Gue udah settle di sini wie, kamu ajalah yang pindah ke Phily …” Suatu kali sahabat saya yang tinggal di Philadelphia pernah berkata demikian kepada saya.

Teman saya yang lain menceritakan betapa dia begitu mencintai Stockholm, negara yang penuh dengan keramahan dan kedamaian itu.
“Disini, meskipun penduduknya sebagian besar para manula, tapi kotanya menyenangkan wie. Tenang dan penduduknya ramah-ramah. Tidak seperti Indonesia…. “

teman saya yang lainnya lagi, seorang shopaholic, selalu mencibir barang-barang buatan Indonesia, dia lebih memilih Singapura untuk memenuhi kebutuhan fashionnya. Tahukah dia, bahwa semua barang-barang yang dia beli itu adalah hasil karya bangsanya sendiri?

Sungguh ironis memang melihat kejadian tersebut diatas. Seironis ketika saya mendengarkan idealisme seorang sahabat yang baru saja kembali ke Indonesia setelah mengenyam kenikmatan tinggal di Jerman. Sebuah idealisme membangun bangsa ini, tapi tetap membusungkan dada ketika menceritakan “Jermannya” itu.

Saya hanya tertawa getir menanggapi setiap kalimat dari para sahabat tersebut. Sebuah tawa yang mengisyaratkan kesedihan mendalam. Kemana larinya rasa nasionalisme tersebut? Rasa yang sebenarnya bisa dijadikan modal untuk mewujudkan apa yang sekarang mereka “banggakan” tersebut. Tidakkah mereka ingat tentang sejarah bambu runcing yang membanggakan itu? Atau sudah lupakah mereka bahwa dulu Bangsa Indonesia terkenal pula dengan keramahan penduduknya, juga pemandangan alamnya yang indah? Pemandangan alam yang selalu saja membuat saya berteriak Gees! Allahu Akbar! karena saking terpukaunya dengan keindahan alam yang terpajang didepan mata.

Saya pandangi cermin di hadapan saya ini, kemudian saya menjadi tersadar. Kamu sendiri, apa yang telah kamu berikan buat bangsa ini? Bathin saya berdengung.

Ya! Sebagai Warga Negara Indonesia saya memang belum pernah memberikan sebuah tindakan besar yang membanggakan bagi bangsa yang saya cintai ini. Mungkin hanya sebatas rasa nasionalisme ini yang tersimpan rapi dalam jiwa yang saya punyai. Rasa nasionalisme yang membimbing saya untuk selalu berusaha berlaku laiknya “Orang Indonesia” yang terkenal akan keramahannya, rasa gotong-royongnya, kerukunannya, dan rasa Ketuhannya yang besar itu. Lamat-lamat terdengar suara Steven & Coconuttreez menyanyikan lagu …Welcome to My Paradise…..


Surga itu adalah kamu, Indonesiaku!



Cirebon, Agustus 2006,
Kala keprihatinan mendera...

Tuesday, July 31, 2007

ANGKA 3 DI ULTAH TEMAN SAYA

Pesta ultah malam ini sungguh meriah.
Senyum dan tawa tampak menghiasi wajah sahabat saya disepanjang acara yang memang diselenggarakan khusus untuknya. Sayapun ikut lebur dalam keceriaan malam itu, hingga malam semakin menjauh dan pestapun harus segera diakhiri.
“Sebenarnya aku benci hari ini wie. Tanggal 3 dan 33 tahun umurku, tapi masih belum juga diberi kesempatan untuk menikah.”

Saya terperangah sesaat mendengar kalimat sang sahabat tersebut, wajah kekar yang beberapa saat lalu penuh dengan keceriaan mendadak menjadi sendu. Haru, itu yang saya rasakan kala itu hingga tak mampu untuk berkata-kata, hanya tepukan halus dipundaknya lah yang mengisyaratkan bahwa saya peduli dengan kondisinya.

Benci, sedih, marah, dan bahagia bukanlah sebuah perasaan, tapi sebuah pemikiran. Suatu kali seorang teman pernah berkata demikian kepada saya, dan ternyata saya sepakat dengan pernyataannya.

Ketika harus kehilangan kedua orangtua yang sangat saya cintai dalam waktu yang berdekatan, sebagai anak bungsu tersayang tentunya saya sangatlah sedih. Siapa lagi yang akan menyambut dengan sukacita disetiap kepulanganku? Siapa pula tempat aku berbagi cerita tentang banyak hal yang menggembirakan? Siapa lagi yang akan menerima limpahan hadiah dan oleh-oleh hasil jerih payahku ini? Dan jawabannya hanya melulu airmata, karena pada saat itu yg ada dipikiran saya adalah TIDAK ADA! Tidak ada lagi yang akan menyambutku dengan teriakan kecil dan peluk hangat didepan pagar rumah, cerita-cerita menggembirakan ditanah rantau pun tidak ada lagi yang akan menampungnya, bahkan uang THR inipun tidak tahu hendak dibelanjakan untuk siapa lagi.

Sampai kemudian saya menjadi tersadar sendiri bahwa tidak ada rumus “Abadi” hidup di dunia ini. Sekarang atau nanti toh saya akan kehilangan siapapun dan apapun yang saya miliki. Jadi, kenapa harus sedih berkepanjangan? Meskipun tidak ada lagi yang akan menyambut kepulanganku dengan hangat di depan pagar rumah, tapi aku masih punya 6 pagar rumah yang lain yang akan menyambut kedatanganku dengan tidak kalah hangatnya. Bahkan cerita-ceritaku kali ini akan semakin seru karena semakin banyak orang yang akan mendengar dan menanggapinya. Uang THR inipun akan semakin bermanfaat karena akan dipergunakan dengan lebih benar lagi. Ya! Saya memang tidak punya orangtua lagi, tapi sebagai gantinya kakak saya yang berjumlah 6 orang menjelma menjadi orangtua baru bagi saya. Dan perubahan pikiran inilah yang membuat saya tidak bersedih lagi.

Lahir, menikah, mati, bukanlah sebuah urutan dalam hidup. Banyak orang hanya sempat menikmati lahir dan kemudian mati tanpa sempat menikmati indahnya sebuah pernikahan. Dan sebagai manusia, kita tidak memiliki kewenangan untuk menentukan ketiga urutan tersebut, karena kewenangan itu mutlak milik Tuhan. Mengutip tulisan seorang sahabat bahwa “manusia tak pernah akan bisa memilih kapan, dimana, sebagai apa, dan bagaimana akan dilahirkan. Sudah barang tentu juga tak bisa menjawab kapan, dimana, dan bagaimana akan mati.” Untuk itu, segala kewenangan yang bukan menjadi milik kita biarlah Tuhan yang mengerjakan dan menyelesaikannya. Tugas kita hanyalah bagaimana bisa menjalani hidup ini dengan bahagia. karena kebahagiaan selalu membawa efek-efek yang positif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar kita.

Dan untuk menjadi bahagia, kuncinya hanya satu, IKHLAS....

Monday, July 30, 2007

PAY IT FORWARD


Beep..beep... Layar ponselku menyala-nyala dan memperdengarkan bunyi khas pertanda ada sms masuk.

-
kamis, jam 9 mlm ada film bagus di ANTV, 'Pay It Forward' Rugi kalo gak nonton.


Sms dari seorang sahabat itu sangat manjur membuatku mau bertahan di channel tv yang jarang aku tonton tersebut. Pasti filmnya memang sangat patut untuk ditonton, karena seorang Anto Saptodewo yang mempunyai kesibukan luar biasapun masih sempat berbagi waktu untuk "berkampanye" tentang bagusnya film tersebut.

Pay It Forward, film yang bisa dibilang sudah terlalu lama untuk dibicarakan lagi. Saking lamanya aku sendiri sampai lupa apakah pernah nonton film tersebut atau belum (cara jitu ngeles, supaya tidak dibilang ketinggalan jaman!). Tapi sepertinya tidak terlalu penting apakah dulu aku pernah nonton atau belum, yang jelas film tersebut sudah didepan mata dan siap untuk dinikmati (kembali).

"Saya akan berbagi kebaikan kepada tiga orang, dan masing-masing dari tiga orang yang menerima kebaikan saya tersebut harus membalas kebaikan saya dengan cara membagi kebaikan kepada tiga orang yang lain, demikian seterusnya..."

Demikian penjabaran sederhana tentang proyek Trevor (pemeran utama dalam film tersebut) yang dia ilustrasikan di papan tulis dengan satu bulatan yang mempunyai kaki 3 dibawahnya, dan setiap kaki tersebut harus mempunyai 3 kaki lagi kebawah, dan seterusnya. Persis seperti bisnis MLM yang (dulu) marak di Indonesia, dimana setiap orang harus mencari downline supaya terbentuk jaringan bagus yang akan menguntungkan sang Up line.

Sejenak proyek Trevor yang dia presentasikan di depan kelas tersebut sedikit mengusik pikiran jahilku. Seandainya saja aku ada diantara anak-anak dikelas tersebut, mungkin aku akan interrupt dan bilang, "Brarti kamu ga tulus dunk Trev, memberikan kebaikan dengan mengharapkan imbalan."

Tapi kemudian aku tersentil sendiri dengan pemikiran jahil tersebut, di dunia ini mana ada sih yang tanpa pamrih?

Seorang Ibu yang terkenal akan kasihnya yang tuluspun tetap mengharapkan pamrih akan kasih yang telah dia berikan tersebut. Meskipun pamrih tersebut tidak selalu harus berujud suatu sanjung puja apalagi harta. Melihat sang anak bisa tumbuh menjadi "kebanggaan hati" mungkin sudah cukup menjadi bayaran atas segala pengorbanannya dalam membesarkan sang buah hati tersebut.

Bahkan aku sendiri -si pemikir jahil, juga seperti itu. Dulu ketika masih kuliah, dalam perjalanan pulang Jogja-Semarang dimana aku sering menggunakan bis non patas (maklum mahasiswi), sering aku jumpai ibu-ibu tua, mbak-mbak yang kerepotan karena harus membawa balita, dan bapak-bapak yang sangat renta, yang tidak kebagian tempat duduk. Jika melihat kondisi seperti itu, hatiku pasti tersentuh. Kursi empuk penghilang penat dalam menempuh perjalanan yang lumayan lama (sekitar 4 jam) pun pasti akan aku tawarkan ke mereka. Tidak apa-apa berdiri 4 jam, toh aku masih cukup muda, bahkan dengan berdiri, seisi bis bisa melihat betapa keren penampilanku (hehe... mencoba berpikir positif, meskipun sedikit narsis).

Tapi, terlepas dari pemikiran positif tersebut, sebenarnya dalam hati kecilku ada sebuah pengharapan atas kebaikan yang aku berikan tersebut. Semoga kelak, dimanapun orangtua atau keluargaku berada akan selalu mendapat perlakuan manis seperti aku memperlakukan mereka. Memang pengharapan itu bukan untukku, tapi tetap saja ada sebuah pamrih yang terselip.

Dan akupun menjadi tertarik untuk mengupas lebih dalam tentang kebaikan yang harus berbalas tersebut.

jadi, ndak ada salahnya tho? Lha wong Tuhan aja juga sering ngiming-imingi * kita dengan berbagai macam pahala untuk beraneka macam kebaikan yang kita lakukan kok, palagi cuman Trevor? Pliss dee aah....!

Akupun semakin terpojok, manakala pikiran jahil yang lain mengingatkanku,

Lagian ngapain kamu ngurusin kebaikan yang sepaket dengan pamrih tersebut? Lha kamu sendiri, udah diiming-imingi pahala yang begitu menggiurkan aja ga pernah konsisten dalam melakukan kebaikan kok, palagi ga dikasih apa-apa??? Cuapekk deeeehhh...!!

Tak lama kemudian, aku menangis haru... entah karena sentilan pemikiran jahilku yang begitu tajem, atau memang film Pay It Forward yang pada endingnya sungguh menyedihkan tersebut. Dasar ndeso!

Terima kasih buat Pak Anto yang telah berbagi indahnya film tersebut, sehingga saya jadi diingatkan bahwa saya memang harus selalu Pay It Forward (PIF) atas segala nikmat yang saya rasakan selama ini.


_Masih di Cirebon, akhir Juli 2007

Monday, June 4, 2007

OBROLAN TENGAH MALAM


+ I’m weak, I’m not as strong as you think

Sms dari seorang sahabat yang tertera dilayar ponselku itu tiba-tiba membuatku sedih. Kenapa harus menyerah? Kenapa pula harus pasrah diubah oleh keadaan? Kemana larinya ketangguhan yang selalu aku banggakan itu? Dan, rasa sedih ini ternyata begitu mengusikku. Sampai kemudian disuatu malam,

“Menangislah, jika itu bisa mengurangi bebanmu…..”
“Sudah. Bahkan dua malamku berturut-turut telah aku habiskan untuk menangis. Dan kamu lihat, beban itu masih terasa berat dipundakku.”
Aku cuma tersenyum mendengar kalimatnya, kubiarkan sahabatku ini mengekspresikan segala kesedihannya.
“Sepertinya enak ya, melompat dari atas gedung tinggi, melayang-layang…. bebas…. dan brukk! Selesai semuanya.”
Aku masih tersenyum, kupandangi wajah cantik dihadapanku ini, “Kamu yakin?” Tanyaku dengan nada lembut.
“Yakin? Maksudmu?”
“Yaa, seperti yang kamu bilang barusan, bahwa melompat dari gedung tinggi akan menyelesaikan semua masalahmu?”
“Iya lah. Mana ada orang yang selamat jatuh dari lantai 7? Kalau gue mati kan semua masalah itu juga akan ikut mati wie.”
“Benar, dengan catatan jika kamu mati. Tapi bagaimana kalau ternyata kamu hanya patah tulang, gegar otak, atau bahkan kombinasi keduanya? Can you imagine that? Sahabat, mati itu adalah hak Tuhan sepenuhnya, bukan hak kamu atau siapapun juga. Jika Tuhan tidak menghendaki kamu mati saat ini, meskipun kamu melompat dari lantai 10 sekalipun, pasti Tuhan punya cara sendiri untuk menyelamatkan kamu. Tahukah kamu, bahwa tindakan bodoh hanya akan menghasilkan hal-hal bodoh pula?”

Sahabatku terdiam sesaat, sejenak kemudian bahunya terguncang hebat. Dia menangis.
"Kamu bisa berkata demikian karena kamu tidak harus membanting tulang menghidupi seorang anak dan seorang nenek yang sakit-sakitan. Bahkan aku yakin kamu tidak pernah merasakan sakitnya dianiaya oleh orang yang kamu harapkan bisa melindungi kamu.... "

Kurengkuh bahu yang berguncang makin hebat itu dan kubiarkan airmatanya membasahi baju tidurku. Aku tahu, saat ini sahabatku hanya butuh tempat untuk mengekspresikan segala kesedihannya.Untuk itu aku memilih mengunci mulutku...

Beberapa saat kemudian, setelah dia berhasil menguasai emosinya dan setelah tisu yang aku sodorkan habis terpakai untuk menghapus airmatanya, dia menatapku. Tatapan yang masih menyisakan kesedihan mendalam itu sedikit tersamarkan dengan senyum manisnya.

“Thanks Wie.”

Aku tersenyum dan mengangguk pelan, kutepuk bahunya mencoba untuk memberikannya penguatan.

“Sepertinya enak sekali jadi kamu ya Wie. Disayangi banyak orang, merdeka banget, dan hidupmu sepertinya jauh dari masalah…”

PLAK! Tiba-tiba aku merasa tertampar dengan ucapan sahabatku barusan. Benarkah hidupku seindah yang dibayangkannya? Teringat kembali kesedihan-kesedihan yang pernah singgah dalam hidupku. Kesedihan yang banyak menyita airmata dan hari-hari indahku. Bahkan aku pernah merasakan duniaku hancur, ketika harus kehilangan tiga orang yang sangat berarti dalam hidupku dalam waktu yang berdekatan. Menghabiskan setiap malamku dengan bersedih, merenungi nasib, dan terpekur sendirian diujungnya waktu. Kemudian dipagi harinya aku harus tetap tertawa, dan menyembunyikan segala kesedihan diri dari setiap mata yang memandang. Sampai kemudian aku menjadi tersadar bahwa ternyata aku tidak setangguh yang dikatakan orang, memang tidak ada airmata yang keluar dari mataku, tapi menghabiskan setiap waktuku hanya untuk menikmati kesedihan yang tiada guna, adalah kecengengan yang sesungguhnya!

Kuhela nafasku sedikit panjang, dan kuraih guling kesayanganku untuk mengalihkan rasa pedih yang tiba-tiba melintas.
"Kamu tahu nggak, apa yg sekarang aku rasakan?"
"Apa Wie?"
"Aku iri sama kamu. aku iri melihat betapa kamu bisa dengan begitu bebas mengekspresikan segala kesedihanmu dihadapan orang lain. Suatu tindakan yang belum pernah bisa aku lakukan hingga saat ini...."

Kalimat yang meskipun aku ucapkan dengan mimik wajah tersenyum tersebut tetap saja membuat sahabatku tercengang. Tiba-tiba dia meraih tanganku, ada binar kepedulian dimatanya.
"Kamu tidak perlu berlaku seperti aku wie untuk mengobati kesedihanmu, karena aku yakin tanpa berbuat seperti itu kamu pasti bisa melalui setiap cobaan. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan umatnya kan?"
"Exactly! Jadi, kamu juga tidak perlu mengakhiri segala kesedihanmu dengan bunuh diri kan? Toh Tuhan percaya kamu akan mampu melewati segala cobaan itu...hehe..."


Dan tawa kecilku tersebut ternyata disambut oleh sabahatku dengan tawa yang lebih keras. Sebuah tawa yang mengindikasikan ada beberapa kesedihan yang ikut terlepas bersamanya.

Malam semakin larut, kulihat sahabatku sudah tertidur dengan sangat pulas seolah-olah tidak ada beban yang sedang bergelayut dipundaknya. Aku jadi teringat pesan seorang guru,

"Jangan biarkan setiap orang yang datang padamu pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajahmu, kebaikan dalam matamu, dan kebaikan dalam senyummu."
Hmm.. malam yang sungguh indah. Ada bahagia menyusup dalam hatiku meskipun malam ini, malam dimana sebenarnya ingin aku habiskan sendirian saja, aku harus berbagi bantal dengannya.


Tiba-tiba rasa rinduku akan seseorang datang lagi .......