
Kawanku masih saja meracau. Menceritakan segala kegundahannya, tentang sebuah waktu yang tersia-siakan.
+ Berapa lama kamu menyia-nyiakan waktumu seperti ini?
- Baru Satu setengah tahun sih.
+ Hehehe… Baru ya? Berarti kamu termasuk hebat.
- Kok?
+ Jika aku jadi kamu dengan kondisi yang menyiksa bathin seperti itu, mungkin hanya tahan paling lama 3 bulan. Selebihnya akan memilih menjalani hidupku tanpanya.
- Tidak semudah itu wie, selama dalam kurun perjalananku, setelah ayahku meninggal dan aku harus dibebani oleh tanggung jawab di keluargaku, dia telah menggantikan figur ayah yang aku butuhkan.
+ Seberapa banyak dia bisa memberikan kontribusi pada hal tersebut?
- Aku bergantung padanya untuk satu hal itu.
+ Lalu, kenapa kamu mengeluh?
- Aku hanya merasa tertekan dan terkadang merasa lelah dengan cara dia melindungiku yang terlalu berlebihan itu.
+ Masih sanggup menahan lelah dan ketertekanan itu?
- Jujur tidak, tapi… aku takut kehilangan dia. Takut kehilangan tempat bersandar seperti kala aku bersandar kepada ayahku..
+ Hidup adalah pilihan kawan. Kamu bisa mendapatkan tempat bersandar tapi bathinmu tersiksa, atau bathin kamu terbebaskan dari belenggu itu namun kamu harus mencari sandaran ditempat yang lain. The ball is in your hand, so use it wisely.
- aku takut wie.. Jika aku meninggalkannya dan mendadak kebutuhan akan sandaran jiwa itu muncul sementara aku belum menemukan sandaran yang lain… aku pasti akan limbung.
+ Pasti? Kenapa kamu memastikan sesuatu yang bahkan kamu sendiri belum menjalaninya? Itulah yang dinamakan rantai pikiran. Kamu memasang rantai pada pikiranmu sendiri sehingga membelenggu gerak langkahmu. Free your mind dear..
Kawanku terdiam, memainkan ujung bajunya. Dia sedang mencerna kalimatku, dan kubiarkan dia dengan waktunya itu.
Dulu, kala harus memilih meninggalkan kekasih hati karena setitik kesalahannya, aku harus menghabiskan hampir 6 tahun lamanya untuk dapat benar-benar “meninggalkannya”. Dalam setiap pelabuhan hati yang hampir aku singgahi, biasanya aku hanya mengamati dari pinggiran, membandingkan dengan yg lalu, kemudian meninggalkan pelabuhan itu karena merasa tak seperti yang terdahulu. Selalu seperti itu. Tak terhitung berapa banyak pelabuhan yang harus melambai sedih kearah kapal layarku. Hingga kalimat seorang kawan telah menyadarkanku,
“Tak ada pelabuhan yang benar-benar sama persis wie. Jika kamu ingin yang seperti pelabuhan terdahulu, jalan satu-satunya merapatlah kesana kembali.”
Haruskah aku memutar arah kemudi ini kembali ke pelabuhan yang entah sudah berapa jauh aku tinggalkan? Ah…. Egoku berkata tidak! Biarlah aku meneruskan pelayaran ini, meskipun harus sendiri melawan badai rindu yang kerap kali datang & melawan dinginnya udara cinta yang belum juga bisa menghangatkan hati ini. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah mencari pelabuhan hati lain tanpa harus membandingkannya. Melepaskan rantai jangkar yang masih tertinggal di pelabuhan terdahulu & memulai pelayaran ini dengan kebebasan penuh.
Dan… Yihaaaaa….!
Setelah benar-benar bebas berlayar, ternyata aku menemukan pelabuhan yang telah membuatku terpukau. Sebuah pelabuhan dengan kelembutan desau angin yang membuatku terbuai, hangatnya sinar mentari yang membuatku tak takut untuk terbakar, dan eloknya sang senja untuk menemani rebahnya diri ini dipeluk sang malam. Cinta…. Yah! Kurasakan getar-getarnya menyentuh setiap mili dari nadi ini. Pelabuhan ini telah membuatku mencinta lagi! Sebuah cinta yang kemarin sempat aku ragukan masih ada dan tersisa. Cinta yang aku pikir telah tertinggal semua di pelabuhan terdahulu. Aaaaaahhhh….. kubiarkan tiupan lembut sang pawana mengurai bebas rambut ini. Legaaa…. Dada ini terasa longgar untuk menerima asupan udara sebanyak apapun.
Ternyata, untuk menemukan rasa yang menyenangkan seperti ini hanya dibutuhkan keberanian. Sebuah keberanian untuk melalui sesuatu yang bahkan kita tak pernah tahu kondisinya.
Kawan,
Terkadang, bayangan yang ada di pikiran kita itu tak semenakutkan kenyataan. Namun sebagian orang memilih untuk membelenggu pikiran-pikiran mereka dengan terlalu banyak pertimbangan. Alih-alih ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, namun yang didapat hanyalah kehampaan.
Dan kehampaan hidup adalah bentuk nyata dari zombie, alias mayat hidup. Hari-hari yang dilalui hanya untuk menunggu mati yang sebenar mati. Senang, namun tak bahagia. Sedih, namun tak berasa. Sebuah hidup yang teramat sia-sia …
Telah kutanggalkan semua rantai pembelenggu itu, dan aku siap mengarungi hidup dengan lebih berani lagi. Tak hendak meminta bekal apapun, hanya sepenggal waktu untuk menjalaninya. Toh aku aku bukan senapan, yang saat dibutuhkan bisa langsung ditembakkan…
Bagaimana dengan kamu?



















