Wednesday, January 30, 2008

When You Divorce Me, Carry Me Out in Your Arms


Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.

Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening: Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut.

Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2. Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon.dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. ini adalah apartment yg kubelikan untuknya.

Dew berkata , "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis. " Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis. "

Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu2. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.

Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor"

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku, walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau, Aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara.
Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari bayangannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama."

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,

"Ada sesuatu yg harus kukatakan"

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.

"aku ingin bercerai",

ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut,

"kenapa?"

"Aku serius. " Aku menghindari pertanyaannya.

Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,

"Kamu bukan laki2!" .

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku.Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi .

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran .Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.


Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,

" He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?

Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku . Aku mengangguk dan mengiyakan.

"Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongkuku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu ."

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.

"Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh.

Kata2nya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,

"wah, papa membopong mama,mesra sekali"

Kata2nya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,

" mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita."

Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu.
Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,Kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi dibajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi.beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "kebun diluar sedang dibongkar.hati2 kalau kamu lewat sana."

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,seperti,dimana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika,aku harus hati2 saat memasak, dll .Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat.Aku berkata padanya,"kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang"

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg
cocok. Lalu ia melihat,"semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum. Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.Anak kami masuk pada saat tersebut.

"Pa,sudah waktunya membopong mama keluar"

Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting . Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyangganya dilenganku, berjalan dari kamar tidur,melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah.
ia berkata,"sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua" Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,

" Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius".

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku."Kamu tidak demam". Kutepiskan tangannya dari dahiku

"maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang ku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu"

Dew tiba2 seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis

" Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua..."

(sumber : unknown)

Wednesday, January 16, 2008

MY WAY

Hah?? Keluar kerja?????


Dapet kerja baru ya?

Gaji kurang?

Mau merit?

Bermasalah sama kantor?

Bosen?


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sehubungan dengan berita keluarnya aku dari tempat kerja.


Teman-teman sekantor langsung terhenyak begitu aku menyampaikan bahwa ini bulan terakhir aku kerja disini. Tak kalah herannya kolega dan sohib-sohibku begitu aku sampaikan berita resign tersebut.


"Wow! This is cool... berani keluar dari zona nyaman. Tidak semua orang seberani kamu..."

Hanya sapi lah satu-satunya orang yang tidak banyak bertanya, as usual....

Wajar sih, jika semua merasa heran dan bertanya-tanya. Dengan posisi yang aku duduki plus tempat kerja yang “menjanjikan” mungkin orang akan cenderung mempertahannya. Tapi, orang geblek ini (baca: aku) malah dengan santai melepaskannya. ADA APA WIE???


Tidak ada apa-apa...


Tidak ada alasan spesifik yang bisa dijelaskan disini. Ini hanya masalah pilihan hidup yang coba untuk aku tentukan sendiri. Mencoba membayar hutang-hutang janji yang sekian lama terabaikan hanya karena alasan kenikmatan hidup.


Dan sekarang, mumpung masih diberi waktu, aku hendak melunasi semuanya. Untuk itu diperlukan “harga” yang harus dibayarkan. Dan... yap! Kalaupun salah satu harga itu adalah dengan harus keluar dari tempat kerja, ok! I’ll do it!

No pain No gain, No Gut No Glory

rite?


So, why worry?

Nyante aja lagi. Semuanya berjalan dengan baik kok guys... taon baru, tempat baru, semangat baru, and of course a new happy life...



And I did it my waayyyyyy.......................


Frank Sinatra pun memberikan inspirasi



Medio Januari 08


Ps: thanks buat semua temans yang sudah begitu baik dan peduli....

tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan2 yang (mungkin) akan menyusul lagi :)

Wednesday, December 26, 2007

GOOD TO GO (sekuel Cirebon... oouww shit!)

Kebo… banun dunk….

Setelahnya, suara yang sengaja direkam oleh sahabat terkasih di ponselkupun menjadi alarm disetiap pagiku.

Kenapa kebo???

Hanya dia yang tahu alasannya. Dan karena panggilan yg tidak berasalan itu pula maka aku juga kemudian memanggilnya dengan sebutan SAPI. Bahkan tidak hanya sebatas panggilan saja, ring tones khusus nomernya pun aku kasih suara lenguhan sapi, sehingga ketika dia menelpon, maka aku bisa berteriak dengan sangat puaass : eh, sapiku nelpoon..!!
Dan, jadilah kami sepasang binatang-binatang lucu nan menggemaskan.

*what a nice own call*

Bersama sapi, aku menghabiskan waktuku di Cirebon dengan sangat menyenangkan. Tiada hari tanpa jalan-jalan dan tawa senang. Menikmati sawah nan menghijau di seputaran Kuningan, berdiskusi tentang petani-petani penggarap yang hidupnya sungguh memprihatinkan, tentang kehidupan cewek-cewek ABG di Indramayu, dan tentang menu nasi merah & ikan mas sambel ijo (puedesnya top markotob!) yang jika memakannya bisa bikin orang blingsatan dan berlaku berlebihan laiknya anak autis –tulisan yang berlebihan juga.

Sungguh waktu yang sangat menyenangkan untuk dinikmati, meski itu di Cirebon sekalipun! Dari sinilah baru kutahu, bahwa indahnya suatu tempat tidak bergantung dari besar atau kecilnya kota tersebut. Tapi lebih kepada dengan siapa kita akan menghabiskan waktu bersama.

Tapi sayangnya, sapi tidak bisa bertahan lama tinggal di Cirebon. Dia mempunyai mimpi-mimpi yang harus dia kejar. Dan itu berarti dia harus say goodbye to Cirebon..... and me, of course!

Sedih sih....

Tapi hidup harus jalan terus. Biarlah sapi dengan pilihan-pilihan hidupnya, dan disini, masih di Cirebon, akupun membiarkan hidupku terus mengalir.

Hingga kemudian,


aku menemukan muara kegembiraan yang lain lagi....

Ma broke.
Demikian aku memanggilnya. Hanya gara-gara terinspirasi film Broke back mountain, maka kami yang sesama jenis dan mempunyai hubungan yang sangat dekat kemudian menamai diri masing-masing dengan sebutan broke dan back. (back tentunya sebutan buat aku).

Tapi weits!


Tunggu dulu, meskipun demikian kami masih normal. Kami masih sama-sama penyuka lelaki, bahkan kala itu kami yang notabene banyak digemari para lelaki sering kebingungan memanfaatkan moment2 ini untuk urusan hura-hura. (Sedikit berlebihan memang, I know broke.... :P)

Broke, si imut nan cantik dan seksi. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Dan karena kedekatan inilah maka dia bisa dengan kurang ajar memanfaatkan hobi dan keahlianku memasak untuk memenuhi hasrat makan dan kemalasannya. Dari mulai nyiapin sarapan pagi hingga late dinner, sudah bisa dipastikan akan menjadi jatah kerjaanku (kebetulan kami tinggal satu kos). Tapi yaa.... aku mengerjakannya dengan senang hati. Lah wong hobi (ini yang aku bilang si broke pandai memanfaatkan situasi).


Tapi untungnya, si broke bisa berlaku sebagai adik yang manis. Selalu Siap sedia menyiapkan tenaga untuk mijitin aku kala rasa lelah sehabis berkerja mulai mendera.

Bahkan tidak cuman itu saja, broke juga mengajarkan banyak hal-hal seru yang belum pernah aku jalani sebelumnya, seperti contoh berikut :

aku : Whattt??? Makan sambil jalan??? Pake baju kerja kayak gini? Ah, yg bener lo broke!

broke : Iya, cuek aja lagi. Mereka pada ga kenal ini. Asik lagi mbak, makan sambil jalan. Belum pernah kan?

Kemudian, dia asik mengunyah paru goreng yang barusan kami beli di warung jamblang dekat kosan. Paru goreng yang dicemil broke sepanjang perjalanan menuju ke kos sepulang bekerja menjadi pemamandangan yang sangat menggiurkan, hingga kemudian...

aku : Bagi dunk, tapi dikit ajah. Malu tauk makan sambil jalan! Apa kata dunia, esmud kayak kita kok makan sambil jalan. Di jalan raya pula! >> miss jaim yg berbicara

Debut pertama makan sambil jalan, aku masih sembunyi-sembunyi. Secuil kecil paru goreng aku emut dulu laiknya ngemut permen, kemudian mengunyahnya pelan. Papasan dengan orang di jalan, ngemut lagi..... ngunyah lagi... ngemut... ngunyah... ngemut...

Tak terasa, aku habis satu potong besar paru goreng. Broke, dan tentu saja aku, sama-sama takjub dengan apa yang barusan aku lakukan. Setelahnya kami tertawa terbahak2 bersama. Bergandengan tangan, dan melanjutkan ngemil paru goreng yang kedua dengan lebih berani lagi.

Betapa indahnya dunia kala itu!

Banyak sekali hal-hal lucu yang menggembirakan aku jalani bersama broke, hingga kebosanan tinggal di Cirebonpun tidak pernah aku rasakan lagi. Nasi jamblangpun akhirnya menjadi menu favorit kami. Selain harganya murah dengan lauk yang beragam, akupun sudah bisa mensiasati bagaimana melahap nasi jamblang tanpa takut terkena lugut* dari daun jati. Yaitu dengan menaruh nasi di piring dan membuang bungkus daun jati tersebut. Standard banget idenya, huh!

Tapi... hiks!

Lagi-lagi aku harus ditinggalkan.

Broke, harus say goodbye to Cirebon... and Me! Yeah! Me.... of course.. untuk mengejar mimpinya. Berdekatan dengan orang yang sekarang jadi suaminya. Good choice anyway broke, proficiat!

Sendiri...???


Tentu tidak, aku masih punya teman-teman yang laen. Datang dan pergi adalah satu sisi romantika hidup. Tidak ada yang perlu di pikirkan secara berlebihan. Toh perpisahan ini tidak membuat hubungan kami lantas jadi kacau. Hanya jarak yang membuat kami tidak bisa ketemu dan bercanda setiap saat. But deep down in our heart, we are still best friend forever!

Meskipun setelah kepergian Sapi dan Broke aku belum pernah menemukan lagi teman yang nyantol di hati, tapi toh aku tetap menikmati setiap pertemuan dengan teman-teman baruku. menikmati cerita-cerita baru yang tidak kalah serunya, canda-canda baru, dan hal-hal baru yang setidaknya bisa membuat aku bisa bertahan hingga setahun lamanya di Cirebon (pasca kepindahan broke).

Dan seperti Sapi & Broke, tentunya aku juga punya impian-impian dalam hidupku. Impian (baca:goals) yang harus segera direalisasikan, supaya semua menjadi kenyataan dan tidak berhenti hanya sebatas mimpi!

Akhirnya, dengan berbekal keyakinan dan kenekatan serta ucapan bismillah, kumulai merangkai mimpi-mimpiku supaya menjadi sesuatu yang nyata, dapat disentuh, dan dirasakan. Meskipun untuk itu dibutuhkan perjuangan baru, dan tenaga baru. But it's ok!

Begitulah hidup!
Harus ada pilihan-pilihan yang mesti ditentukan. Dan yang berhak menentukan pilihan-pilihan itu tentu saja kita. Cos we are a driver in our life! Sepanjang semuanya dilakukan dengan penuh tanggung jawab, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tinggal sehari lagi aku mendiami kota ini. Kota yang mulai aku sukai. Kota dengan banyak kenangan-kenangan indah. Kota yang kelak jika aku datang lagi, maka akan banyak senyum tersungging mengenang kejadian-kejadian masa lampau. Whether it's sad or happy...

I have to go now...


C ya in any situation Cirebon..... oowww shit! I really sad to say goodbye to you...


_27 Desember 2007


Ps: baca postingan sebelumnya di arsip bulan juni dengan judul Cirebon... oowww shit!


Pic yang ga eye catching -->> Broke & me